Meski Pilkada kota Padang baru bakal dihelat pada 2018 mendatang, namun, aura persaingan antar bakal calon sudah mulai terasa. Hal itu dibuktikan dengan sudah banyaknya para bakal calon wali wota/wakil wali kota Padang yang memasang poster-poster, baliho-baliho atau alat-alat peraga kampanye lainnya di ruang publik. Terlebih lagi saat ini telah memasuki masa krusial penentuan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota yang akan didaftarkan ke KPUD Padang.
Sampai saat ini berdasarkan hasil beberapa lembaga survei, sudah ada beberapa nama-nama yang muncul ke permukaan yang akan maju memperebutkan kursi Padang 1 menyaingi para Petahana (incumbent) Mahyeldi Ansharullah ataupun Emzalmi. Setidaknya sudah ada 13 nama yang kabarnya akan ikut kedalam percaturan Pilkada Kota Padang.
Selain dari dua petahana yakni Mahyeldi Ansharullah dan Emzalmi, nama-nama lain yang akan ikut bertarung memperebutkan kursi orang nomor satu di Kota Padang yaitu: Desri Ayunda, Adib Alfikri, Andre Algamar, Hendri Septa, Alkudri, Oktafredi Rasyid, Apris Yaman, Maigus Nasir, James Hellyward , Michel Ichlas El Qudsi, Weno Aulia Durin, Andre Rosiade serta Badrul Mustafa. Nama- nama tersebut selain berasal dari kalangan Partain Pollitik namun juga ada yang berasal dari kalangan birokrat.
Petahana diartikan sebagai pencalonan pada periode kedua dalam jabatan yang sementara dijabat, atau orang yang sementara berkuasa dan kembali mengikuti kontestasi untuk perebutan posisi yang sama. Petahana Mahyeldi Ansharullah dan Emzalmi disebut masih memiliki posisi yang kuat untuk kembali menang dalam pilkada 2018 nanti. Selain memiliki pengaruh yang kuat karena berstatus sebagai petahana yang saat ini menjabat sebagai wali kota dan wakil wali kota Padang, kedua tokoh ini dinilai cukup sukses dalam menjalankan amanah mereka selama ini dalam memimpin kota Padang. Dan tidak bisa dimunafikan jika salah satu dari mereka akan kembali memimpin kota Padang tercinta ini.
Mahyeldi sang petahana saat ini namanya lagi berkibar sebagai walikota dan dinilai berhasil melaksanakan program pembangunan, selain juga sukses membuat beberapa terobosan baru seperti yang dilansir berbagai media belakangan ini. Begitu juga dengan Emzalmi Zaini yang kini menjabat sebagai wakil wali kota Padang juga berpotensi memenangkan Pilkada kota Padang tahun 2018. Betapa tidak, Selain merupakan pamong senior, dia adalah putra asli daerah (PAD) kota Padang yang konon pada Pilkada kota Padang tahun 2013 adalah “pendongkrak” perolehan suara dalam keberhasilan pasangan Mehyeldi – Emzalmi yang memenangkan pesta demokrasi tersebut.. Baik Mahyeldi Ansharullah maupun Emzalmi Zaini masing-masing punya kekuatan dan pendukung militant.
Meskipun dengan tingkat popularitas dan elektebilitas yang tinggi, belum tentu para petahana ini akan memiliki jalan yang mulus dan tidak mendapatkan perlawanan dari kandidat lainnya. Justru sebaliknya, menurut penulis, para petahana ini akan mendapatkan perlawanan serius dari kandidat lainnya. Sebab sampai saat ini belum ada bakal calon yang terlalu dominan dalam hasil survei beberapa lembaga. Maka dari itu segala kemungkinan masih bisa terjadi.
Ada beberapa nama yang diprediksi akan menyulitkan langkah petahana pada Pilkada nanti. Salah satu nama yang diprediksi bisa saja menjadi pesaing bahkan berpeluang mengalahkan Mahyeldi adalah Andre Rosiade. Dalam survey InCost, posisis tokoh muda asal Padang ini elektabilitasnya atau tingkat keterpilihannya berada diposisi ketiga. Padahal, Andre bukanlah calon yang banyak memasang baliho, spanduk, poster atau peraga kampanye lain di ruang publik. Apalagi turun kelapangan bertemu masyarakat. Hal tersebut menunjukan bahwa peluang Andre Rosiade masih sangat menjanjikan diusung menjadi calon wali kota Padang serta jadi lawan tanding seimbang bagi petahana.
Dengan hasil survei yang dilakukan oleh InCoSt (Institut for Community Studies) 24-25 Agustus lalu tersebut, terlihat masih terbukanya peluang bakal calon lain untuk mengalahkan petahana (incumbent) wali kota Mahyeldi Ansharullah yang masih berada di posisi teratas. Menurut Direktur InCost Erizal menyebutkan pada hasil survei dari Desember 2016 sampai terakhir ini, hanya menempatkan tiga orang saja di puncak “klasemen” survey. Pertama tentunya Wako Mahyeldi, disusul Wawako Emzalmi dan Andre Rosiade berada diposisi ketiga. ( Padang Ekpres,Senin/4/September/2017).
Selain itu bakal calon wakilnya Emzalmi, Desri Ayunda bertengger di posisi empat elektabilitas. Sedangkan salah seorang ASN yang balihonya sudah banyak terpasang, berada diurutan bawah survei dengan persentase 0,4 persen. Erizal juga menjelaskan dari hasil survei yang mengambil 1.000 responden itu menjelaskan kepada kita bahwa ternyata petaha (incumbent) memiliki tren elektabilitas yang terus menurun. Bahkan pemilih loyal incumbent hanya sebanyak 40 persen dari total pemilih. Artinya Mahyeldi bisa kalah dengan kerja keras dari calo lainnya ( Padang Ekpres,Senin/4/September/2017).
Meski Mahyeldi masih cukup kuat, namun menurut Efrizal, bukan tidak ada peluang untuk mengalahkan petahana. Justru masih terbuka peluang yang besar dimana terlihat dari tingkat konsistensi pemilih Kota Padang belum terlalu tinggi, yakni 42,2%. Artinya, ada 57% pemilih masih bisa mengubah pilihannya. Apalagi melihat elektabilitas Mahyeldi yang baru 53,3%, artinya, masih ada peluang bagi kandidat lain untuk menyainginya ( Padang Ekpres,Senin/4/September/2017). Saya sependapat dengan pernyataan Efrizal karena dengan status sebagai petahana saat ini masih belum cukup untuk bisa memenangi pilkada kota Padang nanti. Butuh usaha dan perjuangan yang lebih keras lagi dari petahana jika aingin kembali memimpin Kota Padang.
Andre Rosiade adalah salah satu nama yang penulis contohkan dan penulis prediksi akan jadi lawa tanding seimbang bagi petahana (Mahyeldi dan Emzalmi). Tentu selain Andre masih banyak nama-nama lainnya yang akan memilki peluang serupa. Bahkan tidak akan hanya menjadi lawan tanding yang seimbang, jika para kandidat lain dapat memaksimalkan usahanya bisa saja menjadi petarung serius yang dapat mengalahkan Mahyeldi ataupun Emzalmi jika terus bekerja dan dapat dukungan yang maksimal dari masyarakat Kota Padang.
Maka dari itu, baik petahana maupun kandidat lainnya harus memaksimalkan usahanya dalam mengambil hati masyarakat Kota Padang sebab sama-sama memilki peluang untuk menang. Terlebih lagi, jadwal Pilkada serentak yang baru akan diselenggarakan pada 27 Juni 2018 , maka dari itu ,waktu masih tersisa cukup lama bagi para bakal calon untuk terus berkampanye dan memanfaatkan peluang yang ada dengan maksimal.
Penulis: Egip Satria Eka Putra, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas (Naskah ini ditulis pada 10 September 2017)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!