Jalan Pikiran
WhatsApp Facebook X
Home / Boleh Nge-Tren, Jangan Kehilangan Jati Diri: Urip iku Kudu Urup

Boleh Nge-Tren, Jangan Kehilangan Jati Diri: Urip iku Kudu Urup

06 Juli 2026
Rahman Putra Ramadhan
0 Komentar

Boleh Nge-Tren, Jangan Kehilangan Jati Diri: Urip iku Kudu Urup

Oleh: Otong Rosadi

“Bah, terus menyala!” Kalimat itu kini semakin akrab di telinga saya. Adik, anak, bahkan cucu-cucu sering mengucapkannya setiap kali bertemu atau melihat saya tetap aktif mengajar, menulis, dan menghadiri berbagai kegiatan. Awalnya saya menganggap itu hanya ungkapan khas Generasi Z, tetapi lama-kelamaan saya menyadari bahwa di balik kalimat sederhana itu tersimpan semangat yang luar biasa.

Sebagai orang yang lahir pada tahun 1969, saya termasuk Generasi X. Generasi kami tumbuh pada masa ketika kehidupan masih sangat sederhana, tetapi kemudian menyaksikan perubahan dunia yang begitu cepat. Kami mengalami masa tanpa internet, tanpa telepon pintar, hingga kini hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang mampu membantu berbagai pekerjaan manusia.

Belakangan ini saya mencoba mengikuti semangat anak-anak muda. Sesekali saya mengenakan sepatu olahraga merah menyala, dan di kesempatan lain memakai sepatu hijau-oranye yang diproduksi di Vietnam. Beberapa mahasiswa dan teman-teman langsung berkomentar, “Abah sekarang makin Gen Z, terus menyala!” Saya hanya tersenyum, karena bagi saya yang berubah hanyalah warna sepatu, bukan nilai-nilai yang saya yakini.

Terus terang, saya senang melihat karakter Generasi Z. Mereka cepat belajar, berani mencoba hal-hal baru, akrab dengan teknologi, dan tidak takut menghadapi perubahan. Mereka mengajarkan kepada generasi yang lebih tua bahwa belajar tidak pernah mengenal batas usia, selama seseorang masih memiliki kemauan untuk berkembang.

Namun, mengikuti Generasi Z bukan berarti harus meniru semuanya. Ada nilai-nilai yang tetap harus dijaga agar tidak hanyut dalam arus perubahan zaman. Sebab, teknologi akan terus berkembang, tetapi kejujuran, tanggung jawab, integritas, dan rasa hormat kepada sesama tetap menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.

Saya sering mengatakan bahwa generasi yang lahir pada rentang tahun 1960 hingga 1980 adalah generasi yang sangat beruntung. Kami berada di antara dua dunia, yaitu dunia analog dan dunia digital. Kami tidak hanya menjadi saksi perubahan zaman, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan tantangan masa depan.

Dari dimensi nilai, generasi kami hidup dalam situasi yang unik. Nilai-nilai lama masih bertahan sebagai pegangan hidup, sementara nilai-nilai baru terus bermunculan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan globalisasi. Kondisi seperti ini sering menghadirkan dilema, tetapi sekaligus melatih kami untuk bersikap bijaksana dalam memilih mana yang harus dipertahankan dan mana yang perlu disesuaikan.

Di tengah perubahan itulah saya kembali teringat petatah-petitih Jawa yang sangat terkenal, “Urip iku kudu urup.” Kalimat yang singkat itu mengajarkan bahwa hidup harus memberi cahaya dan manfaat bagi orang lain. Nilai itu tidak pernah kehilangan relevansinya, bahkan ketika dunia berubah begitu cepat.

Menariknya, ungkapan “terus menyala” yang sering diucapkan anak-anak muda ternyata memiliki makna yang sejalan dengan falsafah tersebut. Bahasa yang digunakan memang berbeda, tetapi substansinya sama, yaitu jangan berhenti berkarya, jangan berhenti belajar, dan jangan berhenti memberikan manfaat. Dengan kata lain, semangat lintas generasi ternyata dapat bertemu dalam satu nilai yang sama.

Karena itu, saya tidak pernah merasa canggung belajar dari generasi yang lebih muda. Saya belajar menggunakan teknologi digital, memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu pekerjaan akademik, dan memahami cara mereka berkomunikasi melalui media sosial. Sebaliknya, saya berharap pengalaman hidup yang saya miliki dapat menjadi bekal bagi mereka dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Saya percaya bahwa hubungan antargenerasi seharusnya bukan tentang siapa yang lebih hebat. Generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan keberanian untuk berinovasi, sedangkan generasi yang lebih tua memiliki pengalaman, kebijaksanaan, dan kematangan dalam mengambil keputusan. Jika keduanya saling menghargai dan saling belajar, maka akan lahir kolaborasi yang luar biasa.

Pada akhirnya, mengikuti tren bukanlah sesuatu yang salah. Mengenakan sepatu berwarna merah menyala atau hijau-oranye hanyalah simbol bahwa kita tidak alergi terhadap perubahan. Akan tetapi, jangan sampai semangat mengikuti tren membuat kita kehilangan karakter, adab, dan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi pegangan hidup.

Saya ingin terus berjalan bersama generasi muda, bukan untuk mengejar usia yang telah berlalu, melainkan untuk menyambut masa depan dengan semangat yang baru. Selama Allah SWT masih memberikan umur, kesehatan, dan kesempatan, saya ingin terus belajar, terus mengajar, terus menulis, dan terus berkarya. Sebab, sebagaimana petatah Jawa yang tetap relevan sepanjang zaman, “Urip iku kudu urup.” Hidup harus terus menyala, bukan karena penampilan yang menarik, melainkan karena ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan karya yang memberikan kemaslahatan bagi sesama.(OR)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Bagikan pendapat Anda tentang artikel ini