Jalan Pikiran
WhatsApp Facebook X
Home / Efek ‘Flexing’: Berawal dari Konten FYP, Berakhir Dipelototin Petugas Pajak.

Efek ‘Flexing’: Berawal dari Konten FYP, Berakhir Dipelototin Petugas Pajak.

02 November 2026
Rahman Putra Ramadhan
0 Komentar

Efek ‘Flexing’: Berawal dari Konten FYP, Berakhir Dipelototin Petugas Pajak.

Penulis : Mayda Dwi Saputri (Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Prima Nusantara)

Media sosial hari ini bukan lagi sekadar tempat mencari hiburan atau menyapa teman lama. Lebih dari itu, platform digital telah bertransformasi menjadi panggung megah bagi siapa saja untuk menunjukkan pencapaian hidup. Mulai dari pamer mobil sport terbaru, jam tangan mewah berharga miliaran, isi saldo rekening yang bikin mata melotot, hingga liburan mewah ke destinasi eksotik luar negeri.

Bagi sebagian kreator konten atau influencer, aksi flexing atau pamer kekayaan ini dianggap sebagai strategi jitu untuk mendongkrak popularitas, menaikkan engagement, atau menarik endorsement. Namun, di balik lampu sorot kamera dan ramainya kolom komentar yang memuji, ada satu pihak lain yang diam-diam ikut memperhatikan dengan jeli: otoritas perpajakan.

Bagi negara, konten-konten FYP (For Your Page) yang berseliweran di linimasa bukan lagi sekadar tontonan, melainkan data intelijen terbuka yang sangat berharga.

Ketika Algoritma Bertemu dengan Pengawasan Pajak

Di era digital seperti sekarang, batas antara privasi dan ruang publik menjadi sangat tipis. Apa yang Anda unggah secara sadar ke internet—mulai dari garasi rumah yang penuh mobil mewah hingga struk belanjaan bernilai fantastis—bisa diakses oleh siapa saja, termasuk oleh petugas pajak yang dibekali sistem analitik canggih.

Banyak pembuat konten yang mungkin lupa atau mengira bahwa pamer harta di dunia maya adalah ranah personal yang bebas hukum. Padahal, dalam kacamata perpajakan, setiap rupiah harta kekayaan yang ditampilkan harus memiliki profil yang selaras dengan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan yang dilaporkan.

Ketika seseorang dengan santainya memamerkan gaya hidup super mewah di media sosial, tetapi dalam laporan pajaknya tercatat sebagai wajib pajak dengan penghasilan minimal—atau bahkan tidak pernah lapor SPT—di sinilah alarm kecurigaan negara berbunyi. Algoritma media sosial yang mendongkrak video seseorang hingga masuk jajaran trending atau FYP, secara tidak langsung juga sedang “menyoroti” pemilik akun tersebut di hadapan petugas pajak.

Antara Gengsi Konten dan Kepatuhan Nyata

Fenomena ini memunculkan dilema tersendiri di kalangan anak muda dan figur publik digital. Di satu sisi, industri media sosial menuntut adanya visualisasi kesuksesan demi membangun citra atau personal branding. Semakin sukses dan kaya seseorang terlihat, maka semakin tinggi pula daya tarik mereka di mata brand untuk bekerja sama.

Namun, di sisi lain, ada harga mahal yang harus dibayar atas sebuah konten pamer. Negara, melalui Direktorat Jenderal Pajak, kini semakin masif memanfaatkan data digital dan eksternal (data matching) untuk menguji kepatuhan warganya. Kasus di mana figur publik atau influencer mendadak mendapat “surat cinta” atau undangan klarifikasi dari kantor pajak akibat konten mewah mereka bukanlah cerita baru lagi.

Pamer kekayaan yang awalnya bertujuan mendulang decak kagum warganet, justru berujung pada pemeriksaan mendalam mengenai asal-usul harta dan ketaatan dalam menyetor pajak.

Menjaga Kewarasan Finansial di Era Digital

Apakah lantas membuat konten mewah dilarang? Tentu saja tidak. Negara tidak melarang siapapun untuk menjadi kaya raya, menikmati hasil kerja keras, atau membagikan momen bahagia di media sosial.

Namun, ada prinsip keadilan dan transparansi yang menyertainya. Kekayaan yang dipamerkan ke muka publik harus sejalan dengan kontribusi nyata kepada negara melalui ketaatan pajak. Sebab, di balik fasilitas publik yang dinikmati bersama, terdapat kontribusi pajak dari masyarakat yang harus dibayarkan secara adil, bukan sekadar gimik pencitraan demi konten semata.

Flexing mungkin bisa membuat sebuah akun mendarat dengan mulus di jajaran FYP. Namun jika tidak diimbangi dengan kepatuhan finansial yang jujur, konten tersebut justru bisa menjadi tiket ekspres menuju audit pajak yang melelahkan. Jadi, sudah siap merapikan laporan pajak sebelum kembali membuat konten mewah hari ini?

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Bagikan pendapat Anda tentang artikel ini